Berbicara mengenai tempat mistis di daerah Indonesia, ada
sebuah kisah yang berasal dari Flores Barat tepatnya pada kecamatan Tiwu Ndegar
Peka. Tadinya, kisah ini hanya diketahui oleh masyarakat sekitar, namun saat
ini banyak para aktivis sejarah yang tertarik untuk membuyikan hal ini. Untuk
mengetahui Tiwu Ndegar Peka ini, berikut kisahnya.
Di kampung yang bernama Welu, hiduplah kakak beradik yang
memiliki nama yang senada, yaitu Ndeghar sebagai adik dan Ndeghur sebagai
kakaknya dan mereka merupakan pengrajin tuak nira.
Pada suatu hari, Ndeghur meminta Ndeghar untuk menyadap tiak
nira di kampung tetangga. Ndeghar pun berhasil melakukannya dan mendapatkan
satu wadah tuak nira. Setelah berhasil mendapatkan satu wadah tersebut, Ndeghar
pun kembali ke rumahnya.
Ketika Ndeghar telah menyimpannya dengan meletakkannya di
dinding rumah, ada seekor babi yang dayang kerumahnya. Babi itu pun meumpahkan
tuak yang telah di ambil Ndeghar tersebut. Ndeghur yang tadinya tidak berada di
rumah, akhirnya pulang dan menanyakan tuak yang telah diambil Ndeghar.
Menyadari bahwa tuak yang diambil Ndeghar itu tumpah, marahlah Ndeghur
sebesar-besarnya kepada adiknya itu.
Setelah itu, ia menyuruh adiknya untuk menggali tanah yang
tertumpahi oleh air dalam tuak tersebut. Ndeghar pun menuruti permintaan
kakaknya dan terus menggalinya. Setelah sekian dalam Ndeghar menggali tanah
tersebut, ia menemukan sebuah kolam
(tiwu) yang namanya tiwu Peka.
Disana mereka menemukan keluarga yang sedang menjaga anak
perempuan yang sedang sakit. Keluarga yang ditemukan oleh Ndeghar itu
sebenarnya adaah belut raksasa atau sering disebut dengan tuna gendang yang
berwujud manusia. Ndeghar pun penasaran apa yang dialami oleh anak perempuan
yang sedang sakit itu dan bertanya kepada orangtuanya. Tuna gendang pun
menjelaskan bahwa anak mereka terluka akibat tersangkut oleh kail pada
lehernya. Ndeghar pun menawarkan diri untuk menolong anak perempuan tersebut
namun dengan syarat bahwa mereka harus membantu mengembalikan tuak nira yang
tumpah tadi.
Mereka pun bersepakat pada tawaran dari Ndeghar. Setelah itu,
Ndeghar bergegas mengambil ranting bercabang dan mengeluarkan kail yang
tersangkut di lehet anak perempuan tersebut dan berhasil. Sesuai dengan
kesepakatan, tuna gendang pun memberikan sebuah kayu wewang yang tampak seperti
tuak nira.
Setelah itu Ndeghar kembali ke rumah dan memberikan apa yang
di minta kakaknya. Sembari memberikan tuak tersebut Ndeghar pun juga mengatakan
bahwa ia akan kembali ke Tiwu Peka. Ia mengatakan hal tersebut karena kakaknya
lebih mementingkan tuak tersebut dibandingkan ia.
Ndeghur pun menunggu adiknya untuk kembali kepermukaan, namun
tak kunjung muncul. Akhirnya
mereka pun melakukan kenduri karena Ndeghar
dinyatakan hilang dan tak kunjung muncul. Pada kala itu, Ndeghar pun telh
menikah dan mempunyai seorang anak.
Ndeghar pun mendengar acara kenduri tersebut dan akhirnya
memutuskan untuk mengajak anak dan istrinya kembali ke kampung Welu. Akhirnya,
acara kenduri tersebut berubah menjadi acara syukuran.
Ndeghar dan sekeluarga pun bisa bergabung dengan warga
kampung Welu, namun dengan syarat tidak diperbolehkan menggoreng biji longa.
Namun, ada seorang ibu yang menggoreng biji longa tersebut secara tidak
sengaja. Pada akhirnya mereka kembali ke Tiwu Peka dan hidup di kolam tersebut.
Thanks for reading Tiwu Ndegar Peka, Kisah Mistis dari Tanah Flores
